UA-111174953-1

Senin, 01 April 2019

Rencana ke Gili Meno? Ini yang Perlu Diketahui



Mencari ketenangan di Gili Meno merupakan alasan yang tepat karena pulau ini lebih sedikit dikunjungi oleh wisatawan dibandingkan Gili Trawangan dan Gili Air karena pulaunya yang tidak terlalu besar dan penginapan yang tidak terlalu banyak. Pasirnya yang halus dan putih, airnya yang bening, cuaca yang cerah dan suasana yang hening membuat kalian merasa beruntung bisa berada di salah satu pantai terindah di Indonesia ini.

Dermaga kecil
Saat mendarat di Gili Meno, dermaganya cukup kecil dan hampir tidak terlihat seperti dermaga karena tempat pendaratan kapal berada di bawah tempat-tempat makan. Tempat yang cukup nyaman untuk menunggu kapal dengan pemandangan kapal dan gradasi air laut yang jernih.

Air yang tidak terlalu dalam membuat banyak anak yang bermain di sekitar dermaga

Tidak banyak resort yang terdaftar di internet
Penginapan di pulau ini tidak sebanyak di Gili Trawangan dan Gili Air. Tak heran, suasana di sini pun terasa sepi dan tidak bising. Di sini juga tidak ada night club. Untuk mencari penginapan di sini pun termasuk gampang-gampang susah. Beberapa resort/villa yang terdapat di internet tidak terlalu banyak, tetapi saat kalian berada di sini kalian dapat menjumpai beberapa resort atau penginapan keren baik yang langsung menghadap laut maupun agak masuk ke pedesaan. Seiring berjalannya waktu mungkin akan lebih banyak penginapan yang dapat diakses dari internet.

Salah satu penginapan yang menawarkan fasilitas lengkap di Gili Meno


Air minum kemasan lokal yang diproduksi di Lombok

The best sunrise view ever!
Banyak resort yang menawarkan ocean view dengan harga terjangkau jika dibandingkan dengan view yang kalian dapatkan ketika matahari mulai naik. Siluet Gunung Rinjani terlihat sangat indah ketika berhadapan dengan matahari yang mulai nampak. Tak heran jika Gili Meno disebut-sebut sebagai salah satu best spot untuk menikmati sunrise.

No caption needed

Speechless

Sedia uang sebelum ke Gili Meno
Dengan berjalan kaki atau menyewa sepeda (harga sewa Rp50.000 – Rp100.000 per hari), kalian juga bisa bebas mencari titik pantai terbaik untuk berenang atau sekadar berjemur santai karena hampir setiap pantai sama bagusnya terutama untuk berfoto. Di pinggir pantai juga terdapat beberapa tempat sewa alat snorkel, kafe, dan toko pakaian pantai, lagi-lagi tidak terlalu banyak. Di sini juga tidak ada ATM, jadi lebih baik kalian menyediakan cukup uang atau dapat mengambil uang di ATM Pelabuhan Bangsal.


Banyak tersedia gubuk kafe untuk bersantai

Turtle Point dan patung dalam air
Bicara spot snorkeling, wilayah tiga Gili ini adalah juaranya. Di Turtle Point Gili Meno, kalian bisa melihat kekayaan bawah laut yang sangat cantik dan beragam serta berenang bersama penyu-penyu. Lebih pagi lebih baik karena selain tidak terlalu panas, spot ini pun belum terlalu banyak dihinggapi kapal-kapal wisatawan lainnya. Tak hanya itu, Gili Meno juga menawarkan pemandangan bawah laut yang berisi patung-patung berbentuk manusia yang diciptakan oleh pemahat Jason deCaires Taylor.

Sumber: IG leonislander
48 patung berbentuk manusia yang berada di bawah air Gili Meno

Banyak penyu besar berkeliaran di sekitar sini. Besar tapi bikin gemas!

Harga sewa kapal snorkeling di Gili Meno
Harga sewa kapal di sini cukup beragam tergantung jumlah penumpang dan kapalnya. Range harga sewa kapal kira-kira Rp500.000 – Rp800.000 sudah termasuk sewa alat snorkel lengkap. Semakin banyak penumpangnya, semakin murah pengeluaran per orang.

Untuk kembali ke Pelabuhan Bangsal atau ke Gili Trawangan dan Gili Air kalian bisa melihat jadwalnya di dermaga Gili Meno karena kapal yang tersedia tidak ada setiap waktu. Selagi menunggu waktu keberangkatan kapal, kalian bisa lho minum air kelapa atau makan camilan di tempat-tempat makan yang terletak di atas atau pinggir dermaga dengan harga yang cukup bersahabat. Waiting would not be so bore as usual


Senin, 04 Maret 2019

Batu Payung : WIsata Batu Karang di Tanjung Aan




Source: Viva.co.id

Pergi ke Pantai Tanjung Aan, wajib mampir ke Pantai Batu Payung. Pantai ini juga disebut orang sekitar sebagai Pantai Dunhill karena salah satu produk rokok tersebut mengambil lokasi syuting iklannya di pantai ini. Lokasinya di sebelah selatan Pulau Lombok dan termasuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Menuju Batu Payung

Saat memasuki kawasan Pantai Tanjung Aan, di sekitar tempat parkir ada banyak penduduk lokal yang menunjukan gambar-gambar spot keren di Tanjung Aan, salah satunya Pantai Batu Payung ini. Untuk menuju ke lokasi ini, kalian harus menyewa perahu seharga yang ditawarkan sekitar Rp200.000. Tapi, namanya backpacker yang ingin mendapatkan harga murah, ga ada salahnya untuk mencoba tawar menawar harga.

Kalau mau mendapatkan harga sewa perahu yang lebih murah, sebaiknya kegiatan tawar menawar dilakukan di pinggir pantai, karena banyak penyewa perahu yang keliling menawarkan perahunya. Antara niat dan ga niat pergi ke Pantai Batu Payung, saya berhasil menawar harga sewa hingga setengahnya! Yap, Rp100.000.

Perahu kayu seperti ini yang ditawarkan
Perjalanan ke Pantai Batu Payung memang tidak lama, sekitar 10 s.d. 15 menit menggunakan perahu. Tapi, kalian harus tahan dengan deburan ombaknya yang lumayan kencang karena waktu itu bulan November. Perahu sempat oleng dan mati mesin! Untung ABK nya cekatan, jadi ga perlu panik berlama-lama.

Sampai di lokasi, langsung terlihat gundukan batu yang jadi ikon andalan Batu Payung. Ga tau kenapa disebut batu payung karena bentuknya sama sekali tidak seperti payung. Tapi, apapun namanya yang pasti tempat ini keren banget! Batu setinggi kurang lebih 13 meter ini katanya adalah batu karang yang sudah terkikis oleh air dan angin sehingga berbentuk seperti sekrang ini. Dulunya hanya berbentuk batu karang biasa.

Batu Payung jika dilihat dari depan

Ini yang tampak samping
Mau dari sudut manapun, foto-foto akan terlihat bagus karena background yang ga biasa. Pantas saja Dunhill memilih tempat ini. Oiya, banyak juga lho yang melakukan pemotretan di sini baik untuk prewedding maupun photoshoot.

Pasir di sini berbeda dengan pasir biasanya yang halus. Pantai Batu Payung berpasir bulat sebesar merica yang bentuknya besar-besar.

Pasir "merica"

Di sini juga terdapat beberapa penjual makanan ringan dan kelapa muda tapi hanya sedikit karena para penjual membawa dagangannya pulang pergi sebab tidak ada tempat kusus atau kios untuk berjualan.

Baru tahu juga, ternyata untuk menuju ke Batu Payung ini tidak perlu melakukan perjalanan laut karena salah satu teman saya cerita saat ia melakukan foto prewedding di sana, ia cukup berjalan kaki walaupun agak sedikit jauh. Jadi, kalian bisa memilih mau dengan perjalanan darat atau laut :p


Kamis, 21 Februari 2019

Salt Water Pool Mrs Sippy Bali ( Harga Masuk? )



Berbeda dengan beach club lainnya di Bali yang kebanyakan terletak di pinggir pantai, Mrs Sippy Bali berlokasi agak masuk sedikit dari Jalan Petitenget, namun menawarkan pengalaman berbeda dan lebih seru! Siapa yang ga penasaran sama kolam renang salt water plus dilengkapi dive tower dengan ketinggian 1, 3 dan 5 meter?

Berani lompat dari ketingian 5 meter?

Untuk parkiran ga begitu luas, jadi untuk kalian yang membawa mobil disarankan untuk parkir valet (kalau ga salah biayanya Rp20.000), untuk motor bisa langsung parkir di venue.

Sebelum masuk, tas kalian akan diperiksa oleh petugas security untuk memastikan tidak ada makanan dan minuman yang masuk dari luar.

Setelah itu, kalian akan diarahkan untuk membeli tiket masuk dengan harga Rp100.000 yang bisa diredeem dengan minuman dan makanan (awal 2018 saya ke tempat ini). Pelayannya ramah-ramah, juga mau menjelaskan menu makanan A atau B berisi apa saja dan prosedur penukaran tiket masuk dengan minuman dan makanan. Jadi, misal kita order makanan dan minuman total Rp250.000, kita hanya membayar Rp150.000 saja plus memberikan tiket/kupon kita.

Tiket tanggal 13 Februari 2018

Untuk tempat duduk, kita bebas duduk di mana saja selama tempatnya kosong. Enak banget kaaan.

Bisa pilih tempat ini jika ingin menikmati hidangan terlebih dahulu dan ingin cepat nyebur

Atau Daybed untuk bermalas-malasan di pinggir kolam
Banyak pilihan tempat lainnya juga

Important notes:       
  • Buka pukul 10.00 – 21.00 WITA
  • Datang lebih pagi sekitar jam 10.30 – 12.00 WITA untuk menikmati kolam renang rasa private pool karena masih sepi pengunjung.
  • Harga sewa handuk Rp50.000. Jika tidak ingin sewa, kalian boleh membawa handuk sendiri, lho.
  • TIDAK ADA kamar mandi. Hanya ada toilet dan tempat ganti. Tempat bilasnya berada di balik dive tower dan tidak diperkenankan menggunakan sabun dan sampo. Hanya bilas, guys.
  • TIDAK boleh masuk kalau kalian mengenakan kaos berlogo minuman tertentu. No branding!
  • Untuk pool party, biasanya ada htm khusus tergantung DJ dan event yang ada saat itu. Biasanya Rp150.000an khusus adult.
  • Setiap hari kamis biasanya ada promo khusus, seperti bir buy 1 get 1 free, special price pizza, dll.
  • Dive tower setinggi 5 meter hanya dapat digunakan oleh yang berusia 13 tahun ke atas.
Luas banget kan! bisa renang sepuasnya dari ujung ke ujung :)

Kedalaman kolam sekitar 100 – 130 meter mungkin, jadi buat yang ga bisa berenang dan yang cuma ingin main air saja, bisa banget!

Tempatnya juga ramah untuk anak-anak, namun tetap dalam pengawasan orang tua.

Suka bermain billiard?

Gimana? Sudah tandai kalender untuk ke Mrs Sippy? :D


Kamis, 07 Desember 2017

Sunblock Bagus untuk ke Pantai

Sumber: Public Source

Beach is calling! Saatnya menyiapkan semua perlengkapan liburan mulai dari outfit seru, sunglasses, sling bag etnik, sampai sandal yang bikin nyaman seharian. Kalau semua sudah checked, ada satu benda penting yang ga boleh ketinggalan dan wajib dibawa, yaitu sunblock!

Benda kecil ini bagaikan passport ketika memasuki kawasan pantai. No sunblock, no beach. Untuk memilih sunblock yang bagus, harus dibedakan dahulu antara sunblock untuk wajah dan untuk bagian tubuh lainnya, sebab kadar kesensitifannya berbeda.

Biasanya perempuan sudah memiliki sunblock khusus untuk wajah yang disesuaikan dengan kulit. Nah, kalau memilih sunblock untuk tubuh, memang gampang-gampang susah. Banyak merk sunblock yang ditawarkan, seperti Sebamed SPF 50, Innisfree Perfect UV Protection, Vaselin Healthy Sunblock SPF 30, Banana Boat Ultra Protect SPF 50 dan merk lainnya.

Semua sunblock memiliki tujuan yang sama yaitu melindungi kulit dari paparan sinar matahari yang dapat merusak kolagen dan menambah pigmentasi kulit. Karena banyaknya variasi, kita harus pintar memilih jenis sunblock. Pertama, lihat kandungan SPF (Sun Protector Factor) dan PA (Protection Grade of UV A). Biasanya orang Indonesia memakai SPF 50 PA+++. Lalu lihat juga apakah sunblock tahan air atau tidak. Lebih baik pilih yang water resistant karena sunblock akan tetap melindungi kulit walaupun kulit kita terkena air atau saat berenang sekalipun.

Berdasarkan pengalaman setelah coba beberapa sunblock, sunblock Banana Boat Ultra Protection SPF 5- PA +++ paling juara. Sunblock berbentuk lotion ini bertekstur agak kental tapi lembut dan tidak menyumbat pori-pori. Agak sedikit lengket saat baru dipakai tapi lama - kelamaan akan kering dan menyatu dengan kulit. Sunblock ini juga mengandung aloe vera yang berfungsi memberikan rasa dingin dan meredam panasnya matahari. Sunblock Banana Boat Ultra Boat ini juga jadi andalan untuk snorkeling, lho.

Sebaiknya gunakan sunblock 15 s.d. 20 menit sebelum kulit terkena matahari agar sunblock meresap dan memberikan perlindungan secara maksimal. Untuk perlindungan ekstra, gunakan kembali sunblock setelah 3 s.d. 4 jam aktivitas.


Sebaik-baiknya sunblock sebenarnya tidak melindungi kulit 100% dari sinar matahari, jadi lebih baik hindari sinar matahari secara langsung.

Gatal Akibat Terbakar Sinar Matahari

Kulit tiba-tiba terasa gatal, panas dan beruntusan setelah berlama-lama berenang di laut? Ini adalah efek dari sunburn (terbakar matahari) yang menyebabkan rasa tidak nyaman sekalipun sudah memakai sunblock. Biasanya gejala tersebut tidak langsung muncul setelah selesai aktivitas, namun memiliki jeda beberapa jam hingga 1-2 hari.

Area yang sering terkena sunburn ini biasanya sekitar paha, punggung, dan dada karena daerah ini sangat sensitif. Gejala diawali dengan berubahnya warna kulit menjadi kemerahan disertai bentol atau beruntus di beberapa bagian kulit. Lalu akan terasa gatal sangat tajam hingga perih ketika tersentuh.
Pada kondisi ini sebaiknya tidak menyentuh bagian yang gatal apalagi menggaruknya karena akan menambah rasa gatal dan menyebabkan infeksi. Diamkan dan nikmati saja :).

Untuk mengurangi rasa gatal, ada banyak cara tradisional yang bisa dicoba. Tapi, di sini aku berbagi pengalaman dengan cara yang simple karena ga mau repot motong dan membersihkan lidah buaya atau kentang. Caranya:


  •       Selalu bersihkan daerah yang gatal dari air dan debu
Saat kulit sedang meradang, sebaiknya tetap jaga kebersihan kulit agar tidak kotor dan lembap. Oleh karena itu, segera bersihkan kulit saat terkena air dan debu/polusi.


  •        Gunakan pakaian katun
Untuk tetap menjaga kebersihan kulit, sebaiknya gunakan pakaian berbahan katun karena bahan ini memiliki daya serap yang tinggi dan memberikan rasa nyaman dibandingkan dengan bahan-bahan lainnya.


  •        Gunakan olive oil
Ini adalah senjata utama saat gatal-gatal mulai menyerang. Balurkan olive oil ke daerah yang meradang dan pijat lembut selagi gatal menyelekit muncul. Memang tidak langsung menghilangkan rasa gatal, tetapi minyak yang memiliki ratusan khasiat ini mampu mereleksasi kulit dan meredam panas.

Dengan menerapkan cara di atas, gejala-gejala tersebut biasanya akan hilang dalam 2-3 hari. Jadi, nikmati saja.

Selasa, 21 Februari 2017

Pura Lempuyang: Kemegahan di Timur Bali


Ada banyak pura yang dapat kalian temui di “Island of the Gods”, mulai dari pura kecil sederhana hingga pura besar dan megah. Salah satu pura yang megah di Bali yaitu Pura Luhur Lempuyang yang terletak di Karangasem, Bali.

Pura Lempuyang merupakan pura tertua di Bali. Dibangun pada abad ke-8 di puncak Gunung Lempuyang.  Perjalanan menuju pura ini jika dari Kuta memang cukup jauh. Butuh waktu kurang lebih 2 jam menggunakan mobil pribadi tanpa macet. Saya tidak menyarankan kalian menggunakan motor karena selain jaraknya yang cukup jauh, jalanannya pun berkelok-kelok plus menanjak saat mulai mendaki gunung, ditambah hujan sering turun membuat jalanan licin (bulan Desember-Januari). Kalian akan melewati banyak tempat wisata saat menuju Pura Lempuyang, seperti Pura Penataran Padang Bai, Pantai Pasir Putih atau yang dikenal Virgin Beach, hingga Taman Air Tirtagangga. Jadi, jika berencana ke Pura Lempuyang lebih baik berangkat dari pagi hari agar dapat mampir ke tempat-tempat tersebut. Sayang kan tempat wisata keren hanya dilewati begitu saja.

Jika kalian sudah tiba atau melewati Taman Air Tirtagangga di sebelah kiri jalan, berarti perjalanan kalian tinggal 20-30 menit lagi. Kalian akan memasuki jalan kecil dengan tanda “Pura Lempuyang” di sebelah kanan, ikuti terus jalan tersebut hingga kalian tiba di jalan yang menanjak terjal dan berkelok-kelok. Ya, kalian sedang mendaki gunung!

Bermodalkan aplikasi peta di handphone, akhirnya sampai juga di Pura Luhur Lempuyang. Untuk masuk ke dalam, kalian diharuskan memakai pakaian yang tertutup di bagian bawah. Jika tidak, kalian bisa menyewa kain di depan pintu gerbang seharga Rp10.000 plus iuran seikhlasnya untuk perawatan pura. Sebelum masuk, kalian akan dijelaskan bahwa di dalam sana terdapat 7 pura yang jika ditelusuri memakan waktu 2-4 jam. “Kalau foto-foto pura yang ada di internet, tidak terlalu jauh dari sini hanya menaiki beberapa anak tangga saja” begitu kata Bli yang juga menawarkan jasa tour guide. Setelah diberitahu tata tertib di dalam pura, saya pun mulai menapaki beberapa anak tangga hingga akhirnya tiba di tanah lapang dengan pintu gerbang di atasnya, artinya harus menaiki anak tangga lagi.


Salah satu anak tangga yang harus dilewati
Sesampainya di lapangan hijau, harus mendaki tangga lagi

Begitu menaiki tangga dan masuk pintu gerbang, muncullah pura megah dengan 3 tangga yang dihuni oleh patung naga panjang di setiap sisinya. Pura tersebut menjulang tinggi dan berujung pada pintu kecil yang dilihat dari kejauhan. Kesampaian juga ke Pura Luhur Lempuyang! Takjub melihat kemegahan yang seakan menyihir pandangan dalam beberapa detik, pemandangan di balik badan pun tidak kalah indahnya. Berbalik menghadap pintu gerbang yang tadi dilewati, ternyata dari situ muncul Gunung Agung yang tersamar oleh awan. Seakan saya berdiri sejajar di atas puncak gunung suci tersebut. Kalian boleh menaiki tangga pura hingga atas tetapi melalui tangga kanan dan kiri saja. Tangga tengah dianggap suci dan hanya digunakan pada saat upacara saja. Sampai di atas, terdapat beberapa tempat sembahyang yang masih menyisakan dupa-dupa. Rupanya baru saja diadakan upacara keagamaan.

Pura Luhur Lempuyang
Gerbang yang berhadapan dengan Pura Lempuyang. Dari sini nampak Gunung Agung yang terhalang oleh awan
Tangga kanan atau kiri yang hanya dapat dinaiki 

Sampai di puncak tangga
View dari puncak Pura Lempuyang

Sama seperti di tempat wisata lainnya, rasanya tidak mau cepat-cepat meninggalkannya. Namun karena hujan turun, mengharuskan saya kembali ke tempat parkir. Lelah naik turun tangga hingga akhirnya saya melihat jalan aspal di pinggir pura. Segera saya keluar melalui jalan tersebut walaupun jalannya cukup terjal dan licin.

Di sekitar area parkir terdapat beberapa warung dan toilet umum. Namun, kalian harus hati-hati karena banyak sekali anjing yang berkeliaran.


Kamis, 16 Februari 2017

Jakarta Good Guide: Menjelajah Kota Cina di Ibu Kota


Jelang perayaan tahun baru Cina atau Imlek, Jakarta Good Guide mengadakan walking tour yang bertema "China Town" di kawasan Glodok, Petak Sembilan.. Rute perjalanan kali ini diawali di Gedung Candra Naya, lalu menuju Pasar di Jalan Pancoran, Vihara Dharma Bhakti, Gereja Katolik St. Maria De Fatima, Vihara Dharma Jaya Toseibo, Tempat Kaligrafi Cina, Kedai Es Kopi Tak Kie, dan berakhir di Gedung Olveh.

Seluruh peserta berkumpul di Novotel Hotel Gajah Mada dan tepat jam 9 pagi, seluruh peserta dibagi dalam 2 kelompok yang masing-masing berjumlah kurang lebih 12 orang dengan dipimpin oleh 1 orang tour guide. Tujuan pertama yaitu Gedung Candra Naya yang lokasinya tepat berada di kawasan Novotel Hotel. Karena gedung ini merupakan suatu gedung cagar budaya, jadi Gedung Candra Naya tidak dihancurkan pada saat pembangunan hotel. Gedung Candra Naya merupakan bekas rumah seorang mayor, Khouw Kim An yang hidup pada zaman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1875-1945. Dari cerita Mba Rita, tour guide kami, bangunan ini dibangun pada tahun Kelinci Api yaitu tahun 1807 atau 1867 yang  oleh Khow Tian Sek (kakek Khouw Kim An). Gedung ini dibuat untuk salah satu anaknya, yaitu Khow Tjeng Tjoan yang memiliki 14 istri dan beberapa anak, yang kemudian diwariskan pada salah satu anaknya, Khow Kim An. Khow Kim An diangkat sebagai mayor oleh Pemerintah Hindia Belanda yang bertugas untuk mengurusi masyarakat Tionghoa, namun pada zaman Jepang, ia diasingkan ke Cimahi hingga wafat.

Dari segi arsitektur, bangunan ini memiliki ujung atap yang berornamen seperti burung walet. Model yang menunjukan bahwa rumah ini merupakan rumah seorang bangsawan. Sama seperti rumah Tionghoa lainnya, rumah ini juga memiliki ruang lapang pada bagian tengah yang berfungsi untuk sirkulasi udara. Ada sesuatu yang khusus di bagian pintu, yaitu benda berbentuk segi delapan yang melambangkan keberuntungan.

Gedung Candra Naya yang berada di kawasan Hotel Novotel Gajah Mada
Setelah menelusuri gedung Candra Naya, kami berjalan memasuki pasar glodok yang berada di wilayah Petak Sembilan yang pada saat itu banyak dijual ornamen-ornamen imlek. Di dalam pasar yang berbentuk gang kecil, kami banyak menemukan pakaian, teripang, sekba (jeroan babi), aneka kue basah, somay, dan lain-lain.

Teripang laut yang banyak dijual di Pasar Glodok
Setelah melewati pasar, kami tiba di Vihara Dharma Bhakti. Karena menjelang Imlek, vihara ini ramai dipenuhi kaum Tionghoa yang sedang sembahyang dan juga rombongan tur domestik dan internasional. Tour guide kami banyak sekali menceritakan tentang asal muasal berdirinya vihara ini, filosofi menerbangkan burung, hingga tragedi kebakaran yang menghanguskan sebagian bangunan. Karena kebakaran yang begitu besar pada tahun 2015, maka lilin-lilin besar yang tadinya berada di dalam, dipindahkan ke luar. Oleh karena itu, saat perayaan malam Imlek ada banyak mobil pemadam api di sekitar vihara. Memasuki vihara ini, kami melihat 3 orang yang sedang memilah dan mengepak hio. Hio yang dipilah harus ganjil, mulai dari 3, 5, dan kelipatan bilangan ganjil lainnya. Konon, semakin banyak hio yang dibakar semakin besar pula keinginan yang terkabul.

Pintu gerbang Vihara Dharma Bhakti

Suasana hikmat di dalam vihara

Hio yang sedang dikemas untuk sembahyang menjelang Imlek

Lilin besar yang dipindahkan keluar karena peristiwa kebakaran tahun 2015
Kondisi atap vihara yang hangus terbakar api

Masih di deretan jalan yang sama, kami mampir ke Gereja Katolik St. Maria De Fatima, gereja yang memiliki bangunan budaya Tionghoa. Terlihat dari atap gereja yang berbentuk seperti vihara, juga terdapat moon gate di samping kanan dan kiri altar.
Percampuran budaya Tionghoa yang terlihat dari atap gereja

Gerbang bulan atau moon gate yang menjadi ciri khas ornamen Tionghoa

Tak jauh dari Gereja Katolik St. Maria De Fatima, kami mengunjungi Vihara Dharma Toasebio. Memasuki pintu gerbang, kami disambut dengan kegiatan pembersihan patung-patung yang merupakan tradisi masyarakat setempat menjelang Imlek. Kami juga menemukan dua bentuk pohon tinggi yang berisi kertas doa-doa di dalam vihara. Pohon ini merupakan pengganti tempat kertas doa yang biasanya menggunakan gelas dan lilin sehingga tidak menimbulkan asap di ruangan. Dengan adanya pohon ini, bukan berarti kertas doa yang memakai lilin tidak ada, malah ada banyak sekali.

Vihara Dharma Toasebio

2 pohon besar yang berisi doa-doa


Lilin-lilin yang menyinari kertas doa

Selesai kunjungan vihara, kami diajak untuk membeli es kelapa jeruk yang mangkal di depan vihara. Harga es kelapa jeruk hanya Rp10.000 saja, sedangkan es jeruk Rp7.000. Perjalanan belum usai, kami meneruskan perjalanan menuju tempat kaligrafi tulisan Cina yang ditulis sendiri oleh Koh Akwet di toko Sanjaya . Hanya sedikit orang yang handal menulis kaligrafi ini, bahkan kata Koh Akwet anaknya sendiri pun tidak semahir beliau. Karena beliau sangat sibuk sekali, kami pun hanya mampi sebentar dan melanjutkan perjalanan kami. Di perjalanan, tour guide kami menjunjukan bakpia khas daerah glodok. Ada rasa keju, coklat, dan kacang hijau. Rasanya gurih banget, saat digigit teksturnya langsung lumer di mulut. Harganya pun hanya Rp5.000 per buah.

Koh Akwet sedang menulis kaligrafi Cina

Bakpia gurih dengan rasa keju, cokelat dan kacang hijau
Kenyang makan bakpia dan minum sisa-sisa es kelapa jeruk, kami lanjut jalan lagi menyebrangi jalan Pancoran dan masuk ke Gang Gloria, gang yang jadi sumber kuliner halal dan tidak halal. Sempitnya gang dan banyaknya orang, membuat kami harus sabar dan hati-hati dalam berjalan. Setelah berjalan kurang lebih 100 meter, kami tiba di Es Kopi Tak Kie! Salah satu kopi legend di Jakarta. Kedai ini tidak pernah sepi dari pengunjung. Buka jam 7 pagi dan tutup jam 2 siang. Bahkan, jam 12 pun kadang sudah habis. Jadi, disarankan datang lebih pagi untuk bisa menyeruput kopi dan menikmati roti sarikaya di kedai ini. Beruntung kami mendapat tempat duduk dan segera memesan es kopi andalannya. Rasanya memang enak! Campuran kopi dan susunya pas banget. Selain es kopi, kalian juga bisa memesan kopi hitam dan teh tarik plus roti sarikaya. Wajib ke sini lagi sih buat rasain teh tariknya.

Kopi legend yang ada di Glodok

Suasana di dalam kedai Es Kopi Tak Kie
Es kopi segar diminum siang hari
Keluar dari gang, kami tiba di jalan utama yang hanya beberapa meter dari Museum Mandiri. Mengakhiri tur kali ini, kami berjalan menuju Gedung Olveh atau Sarasvati yang tepat berada di samping Stasiun Kereta Api Kota. Ada yang unik dari gedung ini. Ada tangga turun untuk menuju pintu Gedung Olveh. Bukan karena gedung ini berada beberapa centimeter di bawah jalan aspal, tetapi karena jalannya yang meninggi. Kalian juga bisa melihat bata-bata asli di dinding tangga yang dibangun pada zaman pemerintahan Hindia Belanda lho. Di gedung ini juga terdapat kantor Sarasvati dan Coffee Shop Semasa.

Burung-burung unik menyambut kedatangan kami di Gedung Olveh

Perjalanan tur kami ditutup dengan pengisian kuesioner tentang tur yang kami jalani tadi. Sambil mengumpulkan kertas kuesioner yang telah diisi, kami juga memasukan tip untuk tour guide kesayangan kami, Mba Rita yang banyak memberikan informasi dan selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan kami. Perjalanan tur ini tidak dipatok harga, tetapi kita membayar sesuai dengan kepuasan kita akan informasi dan pengalaman yang didapat. Seru kan. Next, harus ikut tour Jakarta Good Guide lainnya nih.

Teman-teman walking tour "China Town"